
Across The Nightingale Floor
Judul Buku : Across The Nightingale Floor
Penagarang : Lian Hearn
Penerbit : Matahati
Cetakan Ke-1 : Juni 2005
Halaman : 382
Harga Buku : Rp 52.500
Telah banyak novel-novel yang bertemakan zaman feodal Jepang yang laris di pasaran dan bahkan menjadi sebuah “novel legendaris”. Siapa yang tidak mengenal buku ‘Musashi’ dan ‘Taiko’ karya novelis handal Eiji Yoshikawa? Across The Nightingale Floor merupakan salah satu dari karya-karya sukses yang mengikuti jejak kedua “novel legendaris” tersebut.
Seperti yang telah diungkapkan, buku ini mengambil setting waktu ketika zaman feodal Jepang. Isinya mengandung latar sejarah dan budaya Jepang yang sangat kental. Walau begitu kisah ini seutuhnya bersifat fantasi, atau fiksi.
Kisah terpusat pada kehidupan seorang bocah berumur enam belas tahun bernama Tomasu. Kehidupannya di desa yang damai sebagai anak biasa yang senang menjelajah ke dalam hutan, berubah seketika saat pimpinan Klan Tohan yang sangat kejam, Lord Iida Sadamu, melakukan pembantaian massal terhadap desa kediamannya, Mino. Desa tersebut dibakar habis hingga seluruh penduduknya dapat dipastikan mati. Kecuali seorang anak yang berhasil melarikan diri ke dalam hutan, Tomasu. Tomasu sudah sangat mengenali seluk beluk hutan di kampung halamannya itu, sehingga prajurit Tohan harus bersusah payah mengejarnya.
Ketika Tomasu melarikan diri dari kejaran para prajuri Klan Tohan, Tomasu bertemu dengan Lord Otori Shigeru, pemimpin Klan Otori yang merupakan musuh besar Klan Tohan. Lord Shigeru merasa pernah mengenali wajah Tomasu, sehingga dibantulah anak tersebut serta dikalahkannya para prajurit Tohan.
Lord Shigeru terkejut melihat wajah Tomasu yang sangat mirip dengan adiknya yang tidak lama meninggal dunia, Takeshi. Takeshi dikabarkan tewas bunuh diri, namun Shigeru percaya bahwa adiknya itu mati dibunuh oleh pembunuh bayaran yang diutus Klan Tohan. Kebencian dan kesedihan Shigeru pun semakin menjadi-jadi. Keberadaaan Shigeru di desa yang sangat jauh dari kampung halamannya, Hagi, itu pun dikarenakan Shigeru masih berkabung dan ingin menenangkan diri dengan cara mengembara.
Namun, pertemuan Shigeru dengan Tomasu, entah mengapa, telah membuat Shigeru tersadar dari kesedihan atas kematian Takeshi. Maka Shigeru pun berencana membawa Tomasu untuk menjadikan ia sebagai anak angkatnya. Karena nama ‘Tomasu’ merupakan nama yang asing bagi Klan Otori, Shigeru mengganti nama anak itu dengan nama ‘Takeo’, mirip dengan nama adiknya. Sejak saat itulah kehidupan Tomasu “hijrah”, dari Tomasu menjadi seorang Otori Takeo.
Setelah beberapa kejadian yang menimpa Shigeru dan Takeo, akhirnya Takeo diketahui merupakan salah seorang pewaris Suku Tribe, suku pembunuh yang memiliki kemampuan bela diri dan supranatural yang luar biasa. Mereka memiliki pendengaran yang sangat tajam, mampu menghilangkan diri, dan bisa berada di dua tempat dalam satu waktu. Kehidupan Tribe tidak diketahui oleh orang banyak. Mereka hidup dalam bayang-bayang dan banyak dari mereka yang menghabiskan hidupnya dengan menjadi mata-mata dan pembunuh bayaran bagi pihak tertentu.
Untuk mengasah kemampuan Tribe yang mengalir dalam diri Takeo, Shigeru memanggil seorang sahabatnya yang juga merupakan anggota Tribe, Muto Kenji. Takeo belajar pengendalian diri, mengembangkan kekuatannya, serta belajar membaca dan menulis di Hagi. Dengan kemampuan Takeo, Shigeru berencana membunuh Lord Iida secara diam-diam untuk menuntaskan dendam mereka berdua. Karena hanya dengan kemampuan Tribe-lah, Nightingale Floor yang dipasang di kediaman Lord Iida dapat dilewati. Nightingale Floor adalah lantai yang akan selalu berbunyi dan bernyanyi seperti kicauan burung apabila seseorang berjalan di atasnya.
Di sisi lain, Iida Sadamu juga telah menyiapkan rencananya. Iida bersekongkol dengan dua paman Shigeru yang selalu berusaha menyingkirkan Shigeru beserta kekuasaannya, Otori Shoici dan Otori Masahiro. Kedua paman Shigeru memberi syarat kepada Shigeru untuk menikahi Shirakawa Kaede, apabila Shigeru ingin mengangkat Takeo sebagai anaknya secara resmi. Pernikahan ini akan dilakukan di ibu kota, Inuyama, yang juga merupakan tempat kediaman Lord Iida.
Sementara itu, Shirakawa Kaede adalah pewaris dari Klan Shirakawa yang berada di bawah kekuasaan Tohan. Karena kekalahan ayahnya atas Klan Tohan, Kaede terpaksa menjadi tawanan sejak berumur tujuh tahun di Kastil Noguchi. Kehidupannya selama sembilan tahun sebagai tawanan sekaligus pelayan di Kastil Noguchi sangat terisolasi dan diperlakukan dengan buruk. Namun Kaede tetap tumbuh menjadi gadis yang berperangai kuat dan berparas cantik.
Kaede memiliki reputasi buruk dalam hubungannya dengan laki-laki. Dua laki-laki telah tewas karena terbuai oleh kecantikan dirinya, orang-orang pun mengatakan bahwa setiap laki-laki yang menginginkan dirinya pasti akan mati. Dengan memanfaatkan reputasi Kaede ini lah kedua paman Shigeru, yang bersekongkol dengan Lord Iida, mencoba menyingkirkan Shigeru.
Bagi pihak Shigeru sendiri, pernikahan ini juga akan membawa keuntungan. Keberadaannya di Inuyama akan memudahkannya untuk memenuhi tujuan utamanya, membunuh Iida Sadamu. Maka Shigeru pun menyetujui syarat yang diajukan kedua pamannya, walaupun diam-diam Shigeru telah memiliki ikatan cinta dengan Lady Maruyama Naomi, pemimpin Klan Maruyama. Di sisi lain, Kaede dan Lady Maruyama ternyata juga masih memiliki hubungan saudara sepupu. Hal ini akan menimbulkan permasalahan cinta yang pelik antara Lord Shigeru dan Lady Maruyama. Terlebih lagi ketika Takeo dan Kaede saling jatuh cinta saat keduanya bertemu.
Sebaik apapun kebenaran disembunyikan, pasti akan ketahuan juga. Akhirnya Tribe mengetahui keberadaan Takeo yang mewarisi darah Tribe. Sesuai tradisi dalam Tribe, setiap anggotanya harus mematuhi segala perintah sang ketua dan mengabdikan diri pada Tribe. Apabila hal itu dilakukan, maka Takeo harus meninggalkan Klan Otori dan hidup dalam bayang-bayang kegelapan Tribe.
Di sini Takeo dihadapkan pada pilihan-pilihan rumit yang menyangkut kehidupan dirinya, klannya, dan juga seluruh kekuasaan Tiga Negara. Langkah apakah yang harus diambil oleh Takeo sementara Shigeru memberikan kebebasan padanya untuk mengambil keputusan apapun. Haruskah Takeo memenuhi keinginan Shigeru untuk membawakan kedamaian bagi Tiga Negara bersama Klan Otori, dengan menjadi incaran Tribe seumur hidup; ataukah menghilang dari dunia bersama Tribe, mengabdikan hidupnya kepada leluhurnya, dan meninggalkan Shigeru, Kaede, serta orang-orang yang dicintainya?
Across The Nightingale Floor mengajak pembaca berpetualang dalam pencarian jati diri seorang remaja yang baru beranjak dewasa, namun sudah dipertemukan dengan berbagai permasalahan yang rumit. Takeo dan Kaede, adalah dua tokoh utama yang harus melewati masa remajanya dengan dihadapkan kepada berbagai permasalahan klan, politik, negara, dan cinta, lengkap beserta intrik-intriknya.
Alur, setting, dan unsur-unsur budaya memegang peran yang sangat penting dalam kisah ini. Sehingga pembaca akan merasa benar-benar dibawa ke masa lalu. Bahasa yang digunakan juga sangat mendukung daya serap pembaca dalam membaca cerita.
Di akhir buku ini pembaca akan dibuat penasaran dengan cerita yang agak menggantung. Hal ini akan membawa nilai negatif dan positif bagi sebagian pembaca. Karena di satu sisi pembaca akan terdorong untuk membaca kelanjutan dari trilogi Kisah Klan Otori ini, yang berjudul Grass For His Pillow dan Brilliance Of The Moon.
Lian Hearn, nama pena dari Gillian Rubenstein, adalah seorang penulis asal Inggris yang tinggal di Australia sejak tahun 70-an. Ia belajar bahasa di Oxford University, dan pada tahun 1999 belajar di Jepang selama tiga bulan dengan beasiswa dari Asialink Foundation. Sebelum menulis buku ini, dia telah menulis sebanyak 35 buku cerita anak yang sukses di pasaran. Buku ini adalah debut pertamanya dalam menulis novel. Telah diterjemahkan ke dalam 26 bahasa berbeda, dan meraup 11 penghargaan internasional.
Across The Nightingale Floor, novel yang berkisah tentang peperangan, kesetiaan, pengkhianatan, dan cinta ini sangatlah layak untuk dibaca. Dan akan lebih lengkap lagi apabila disertai dengan sekuel-sekuelnya: Grass For His Pillow, Brilliance Of The Moon, dan Harsh Cry Of The Heron.
Judul Buku: Across The Nightingale Floor
Penagarang: Lian Hearn
Penerbit: Matahati
Cetakan Ke-1: Juni 2005
Halaman: 382
Harga Buku : Rp 52.500
=======================
WARNING, SPOILER!
Telah banyak novel-novel yang bertemakan zaman feodal Jepang yang laris di pasaran dan bahkan menjadi sebuah “novel legendaris”. Siapa yang tidak mengenal buku ‘Musashi’ dan ‘Taiko’ karya novelis handal Eiji Yoshikawa? Across The Nightingale Floor merupakan salah satu dari karya-karya sukses yang mengikuti jejak kedua “novel legendaris” tersebut.
Seperti yang telah diungkapkan, buku ini mengambil setting waktu ketika zaman feodal Jepang. Isinya mengandung latar sejarah dan budaya Jepang yang sangat kental. Walau begitu kisah ini seutuhnya bersifat fantasi, atau fiksi.
Lanjutkan membaca ‘Across The Nightingale Floor’
Komentar Terakhir