Sun Shines Before Rain Falls (Story Part 1)

aku mau bercerita…

Jum’at, 18 Desember 2009

hari itu mungkin hari terbaik saya. H-1 sebelum turnamen basket bertitel AXIVIC CUP dimulai, saya bersama tiga orang teman saya, plus dua guru dan satu supir, pergi menghadiri Technical Meeting di MAN Insan Cendekia, sekolah yang sempat menjadi tujuan saya melabuhkan kehidupan SMA ini, sekolah yang memiliki makna tersendiri bagi saya, serta teman-teman saya. maka dari itu, turnamen AXIVIC CUP ini merupakan turnamen yang saya dan teman-teman tunggu-tunggu selama beberapa dekade bulan…

pagi itu saya datang jam 7 pagi di sekolah, janjian bersama beberapa orang teman dan guru. gak nyangka ternyata di sekolah ada guru favorit saya, Ustadz ‘Ibenuuu (*Pak Ibnu) :D . saya bercakap dulu dengan beliau, ngeliat-liat nilai rapot tahfidz dan bahasa arab di komputernya, sambil nunggu teman-teman saya datang. alhamdulillah, tahfidz dapet cepeek 8) bahasa arab? kacaulah.

Lanjutkan membaca ‘Sun Shines Before Rain Falls (Story Part 1)’

Hello Blog

Paling bingung itu mengawali kalimat setelah lama ga posting. well, inilah saya, kembali setelah 2 bulan hilang ditelan dunia.

yang ada dipikiran saya saat ini:

  1. dingin. luar biasa hari ini. mulai dari gw bangun jam 3 pagi tadi untuk shaur, rintik-rintik hujan udah mulai turun. sampai jam 8, gw bangun tidur (gimana gak tidur di momen yang seindah ini: pagi hari yang dingin diiringi gerimis saat libur Idul Adha) hujan juga masih belum puas melantunkan mantra-mantra ampuhnya yang bikin gw males-malesan setengah mati. yang bikin gw semangat buat bangun dari kasur cuma: abang stupeedy bakalan dateng ke rumah buat betulin internet gw yang sedang ga berfungsi sejak 1 bulan lamanya. kan kasian kalo itu orang udah semangat2 dateng ke rumah di pinggiran kota Depok yang indah ini, basah kuyup setelah membelah guyuran hujan, eh ketemunya cuma sama bocah yang masih ngucek2 belek bercelana boxer kekecilan.

    ya jadi intinya gw seneng hari ini, akhirnya gw bisa melepas kangen untuk berinternet ria di hari yang sangat indah ini: ujannya baru berenti jam 1 siang loh. oh, I love rain (bukan artis korea yang jadi model iklan sampo loh *iklan sampo bukan sih?*)

  2. haus dan lapar. di H-1 Idul Adha ini alhamdulillah gw bisa melaksanakan puasa Arafah dimana mungkin sebagian orang mungkin ada yang ga bisa melaksanakannya. buat cewe mungkin ada yang lagi dapet, atau entah-sedang-sakit-apa. *tadi abis liat temen ng-update status fb, katanya ga bisa puasa gara2 sakit mag. syafakallah/syafakillah, buat yang lagi sakit.*

    dan buat gw serta orang-orang yang sedang melaksanakan puasa lainnya, semoga puasa kita diterima, dan dosa-dosa kita selama 1 tahun ke belakang dan ke depan (kayak lagi senam aja) bisa dihapuskan. amin amin ya rabbal alamin :)

  3. gw udah terlambat bimbel. jadi sampai jumpa bloggers. nanti dilanjutkan lagi. dadaaaahhh

Across The Nightingale Floor

Across The Nightingale Floor

Judul  Buku : Across The Nightingale Floor
Penagarang : Lian Hearn
Penerbit : Matahati
Cetakan Ke-1 : Juni 2005
Halaman : 382
Harga Buku : Rp 52.500
Telah banyak novel-novel yang bertemakan zaman feodal Jepang yang laris di pasaran dan bahkan menjadi sebuah “novel legendaris”. Siapa yang tidak mengenal buku ‘Musashi’ dan ‘Taiko’ karya novelis handal Eiji Yoshikawa? Across The Nightingale Floor merupakan salah satu dari karya-karya sukses yang mengikuti jejak kedua “novel legendaris” tersebut.
Seperti yang telah diungkapkan, buku ini mengambil setting waktu ketika zaman feodal Jepang. Isinya mengandung latar sejarah dan budaya Jepang yang sangat kental. Walau begitu kisah ini seutuhnya bersifat fantasi, atau fiksi.
Kisah terpusat pada kehidupan seorang bocah berumur enam belas tahun bernama Tomasu. Kehidupannya di desa yang damai sebagai anak biasa yang senang menjelajah ke dalam hutan, berubah seketika saat pimpinan Klan Tohan yang sangat kejam, Lord Iida Sadamu, melakukan pembantaian massal terhadap desa kediamannya, Mino. Desa tersebut dibakar habis hingga seluruh penduduknya dapat dipastikan mati. Kecuali seorang anak yang berhasil melarikan diri ke dalam hutan, Tomasu. Tomasu sudah sangat mengenali seluk beluk hutan di kampung halamannya itu, sehingga prajurit Tohan harus bersusah payah mengejarnya.
Ketika Tomasu melarikan diri dari kejaran para prajuri Klan Tohan, Tomasu bertemu dengan Lord Otori Shigeru, pemimpin Klan Otori yang merupakan musuh besar Klan Tohan. Lord Shigeru merasa pernah mengenali wajah Tomasu, sehingga dibantulah anak tersebut serta dikalahkannya para prajurit Tohan.
Lord Shigeru terkejut melihat wajah Tomasu yang sangat mirip dengan adiknya yang tidak lama meninggal dunia, Takeshi. Takeshi dikabarkan tewas bunuh diri, namun Shigeru percaya bahwa adiknya itu mati dibunuh oleh pembunuh bayaran yang diutus Klan Tohan. Kebencian dan kesedihan Shigeru pun semakin menjadi-jadi. Keberadaaan Shigeru di desa yang sangat jauh dari kampung halamannya, Hagi, itu pun dikarenakan Shigeru masih berkabung dan ingin menenangkan diri dengan cara mengembara.
Namun, pertemuan Shigeru dengan Tomasu, entah mengapa, telah membuat Shigeru tersadar dari kesedihan atas kematian Takeshi. Maka Shigeru pun berencana membawa Tomasu untuk menjadikan ia sebagai anak angkatnya. Karena nama ‘Tomasu’ merupakan nama yang asing bagi Klan Otori, Shigeru mengganti nama anak itu dengan nama ‘Takeo’, mirip dengan nama adiknya. Sejak saat itulah kehidupan Tomasu “hijrah”, dari Tomasu menjadi seorang Otori Takeo.
Setelah beberapa kejadian yang menimpa Shigeru dan Takeo, akhirnya Takeo diketahui merupakan salah seorang pewaris Suku Tribe, suku pembunuh yang memiliki kemampuan bela diri dan supranatural yang luar biasa. Mereka memiliki pendengaran yang sangat tajam, mampu menghilangkan diri, dan bisa berada di dua tempat dalam satu waktu. Kehidupan Tribe tidak diketahui oleh orang banyak. Mereka hidup dalam bayang-bayang dan banyak dari mereka yang menghabiskan hidupnya dengan menjadi mata-mata dan pembunuh bayaran bagi pihak tertentu.
Untuk mengasah kemampuan Tribe yang mengalir dalam diri Takeo, Shigeru memanggil seorang sahabatnya yang juga merupakan anggota Tribe, Muto Kenji. Takeo belajar pengendalian diri, mengembangkan kekuatannya, serta belajar membaca dan menulis di Hagi. Dengan kemampuan Takeo, Shigeru berencana membunuh Lord Iida secara diam-diam untuk menuntaskan dendam mereka berdua. Karena hanya dengan kemampuan Tribe-lah, Nightingale Floor yang dipasang di kediaman Lord Iida dapat dilewati. Nightingale Floor adalah lantai yang akan selalu berbunyi dan bernyanyi seperti kicauan burung apabila seseorang berjalan di atasnya.
Di sisi lain, Iida Sadamu juga telah menyiapkan rencananya. Iida bersekongkol dengan dua paman Shigeru yang selalu berusaha menyingkirkan Shigeru beserta kekuasaannya, Otori Shoici dan Otori Masahiro. Kedua paman Shigeru memberi syarat kepada Shigeru untuk menikahi Shirakawa Kaede, apabila Shigeru ingin mengangkat Takeo sebagai anaknya secara resmi. Pernikahan ini akan dilakukan di ibu kota, Inuyama, yang juga merupakan tempat kediaman Lord Iida.
Sementara itu, Shirakawa Kaede adalah pewaris dari Klan Shirakawa yang berada di bawah kekuasaan Tohan. Karena kekalahan ayahnya atas Klan Tohan, Kaede terpaksa menjadi tawanan sejak berumur tujuh tahun di Kastil Noguchi. Kehidupannya selama sembilan tahun sebagai tawanan sekaligus pelayan di Kastil Noguchi sangat terisolasi dan diperlakukan dengan buruk. Namun Kaede tetap tumbuh menjadi gadis yang berperangai kuat dan berparas cantik.
Kaede memiliki reputasi buruk dalam hubungannya dengan laki-laki. Dua laki-laki telah tewas karena terbuai oleh kecantikan dirinya, orang-orang pun mengatakan bahwa setiap laki-laki yang menginginkan dirinya pasti akan mati. Dengan memanfaatkan reputasi Kaede ini lah kedua paman Shigeru, yang bersekongkol dengan Lord Iida, mencoba menyingkirkan Shigeru.
Bagi pihak Shigeru sendiri, pernikahan ini juga akan membawa keuntungan. Keberadaannya di Inuyama akan memudahkannya untuk memenuhi tujuan utamanya, membunuh Iida Sadamu. Maka Shigeru pun menyetujui syarat yang diajukan kedua pamannya, walaupun diam-diam Shigeru telah memiliki ikatan cinta dengan Lady Maruyama Naomi, pemimpin Klan Maruyama. Di sisi lain, Kaede dan Lady Maruyama ternyata juga masih memiliki hubungan saudara sepupu. Hal ini akan menimbulkan permasalahan cinta yang pelik antara Lord Shigeru dan Lady Maruyama. Terlebih lagi ketika Takeo dan Kaede saling jatuh cinta saat keduanya bertemu.
Sebaik apapun kebenaran disembunyikan, pasti akan ketahuan juga. Akhirnya Tribe mengetahui keberadaan Takeo yang mewarisi darah Tribe. Sesuai tradisi dalam Tribe, setiap anggotanya harus mematuhi segala perintah sang ketua dan mengabdikan diri pada Tribe. Apabila hal itu dilakukan, maka Takeo harus meninggalkan Klan Otori dan hidup dalam bayang-bayang kegelapan Tribe.
Di sini Takeo dihadapkan pada pilihan-pilihan rumit yang menyangkut kehidupan dirinya, klannya, dan juga seluruh kekuasaan Tiga Negara. Langkah apakah yang harus diambil oleh Takeo sementara Shigeru memberikan kebebasan padanya untuk mengambil keputusan apapun. Haruskah Takeo memenuhi keinginan Shigeru untuk membawakan kedamaian bagi Tiga Negara bersama Klan Otori, dengan menjadi incaran Tribe seumur hidup; ataukah menghilang dari dunia bersama Tribe, mengabdikan hidupnya kepada leluhurnya, dan meninggalkan Shigeru, Kaede, serta orang-orang yang dicintainya?
Across The Nightingale Floor mengajak pembaca berpetualang dalam pencarian jati diri seorang remaja yang baru beranjak dewasa, namun sudah dipertemukan dengan berbagai permasalahan yang rumit. Takeo dan Kaede, adalah dua tokoh utama yang harus melewati masa remajanya dengan dihadapkan kepada berbagai permasalahan klan, politik, negara, dan cinta, lengkap beserta intrik-intriknya.
Alur, setting, dan unsur-unsur budaya memegang peran yang sangat penting dalam kisah ini. Sehingga pembaca akan merasa benar-benar dibawa ke masa lalu. Bahasa yang digunakan juga sangat mendukung daya serap pembaca dalam membaca cerita.
Di akhir buku ini pembaca akan dibuat penasaran dengan cerita yang agak menggantung. Hal ini akan membawa nilai negatif dan positif bagi sebagian pembaca. Karena di satu sisi pembaca akan terdorong untuk membaca kelanjutan dari trilogi Kisah Klan Otori ini, yang berjudul Grass For His Pillow dan Brilliance Of The Moon.
Lian Hearn, nama pena dari Gillian Rubenstein, adalah seorang penulis asal Inggris yang tinggal di Australia sejak tahun 70-an. Ia belajar bahasa di Oxford University, dan pada tahun 1999 belajar di Jepang selama tiga bulan dengan beasiswa dari Asialink Foundation. Sebelum menulis buku ini, dia telah menulis sebanyak 35 buku cerita anak yang sukses di pasaran. Buku ini adalah debut pertamanya dalam menulis novel. Telah diterjemahkan ke dalam 26 bahasa berbeda, dan meraup 11 penghargaan internasional.
Across The Nightingale Floor, novel yang berkisah tentang peperangan, kesetiaan, pengkhianatan, dan cinta ini sangatlah layak untuk dibaca. Dan akan lebih lengkap lagi apabila disertai dengan sekuel-sekuelnya: Grass For His Pillow, Brilliance Of The Moon, dan Harsh Cry Of The Heron.

Judul  Buku: Across The Nightingale Floor

Penagarang: Lian Hearn

Penerbit: Matahati

Cetakan Ke-1: Juni 2005

Halaman: 382

Harga Buku : Rp 52.500

=======================

WARNING, SPOILER!

Telah banyak novel-novel yang bertemakan zaman feodal Jepang yang laris di pasaran dan bahkan menjadi sebuah “novel legendaris”. Siapa yang tidak mengenal buku ‘Musashi’ dan ‘Taiko’ karya novelis handal Eiji Yoshikawa? Across The Nightingale Floor merupakan salah satu dari karya-karya sukses yang mengikuti jejak kedua “novel legendaris” tersebut.

Seperti yang telah diungkapkan, buku ini mengambil setting waktu ketika zaman feodal Jepang. Isinya mengandung latar sejarah dan budaya Jepang yang sangat kental. Walau begitu kisah ini seutuhnya bersifat fantasi, atau fiksi.

Lanjutkan membaca ‘Across The Nightingale Floor’

So Quick

kemarin siang, teman gw tiba2 berkata penuh iba. “eeh, Mbah Surip meninggal, eeh…”
seketika kelas bergemuruh, ga percaya. beritanya masih sangat2 hangat.

beberapa jam kemudian, kabar dari berbagai sumber mulai berdatangan. “eh, Mbah Surip beneran meninggal, eh! gw liat di TV di ruang TU!” kata seorang temen gw.
“Pak, Mbah Surip beneran meninggal, Pak?”, tanya temen gw kepada seorang guru yang mengaku temannya Mbah Surip. “Iya, bener”, jawab guru ‘killer’ itu, dingin.
beritanya begitu cepat menyebar. berbagai macam saluran tv berlomba menyiarkan berita hot tersebut.

seorang lagi, penyanyi legendaris dunia telah selesai “bertugas” di dunia yang fana ini. semoga amal ibadahnya diterima. Mbah Surip

love you full, Mbah Surip. tetap menggendong, dan jangan tidur lagi..

quick post by quickpress

Sekedar Update

lama gak update nih. belakangan lagi sibuk ikutan PORKOT III (Pekan Olah Raga Kota Depok). ditambah lagi harus les tiap hari selasa-kamis di SSC (Sony Sugema College, Jl. Margonda, Depok), bikin gw makin susah ng-update blog selain hari sabtu-minggu atau hari libur. tapi gapapa, yang penting ng-update ah :P

ngomong-ngomong tentang PORKOT nih. apa sih PORKOT itu? yah, baca aja kepanjangannya yang diatas, pasti ngerti kan? ajang olah raga se-kota Depok ini mengikutsertakan 6 kecamatan dari kota Depok. ada kecamatan Sawangan, Pancoran Mas, Beji, Sukmajaya, Cimanggis, dan Limo. keenam kecamatan ini bakal mengikuti 21 cabang olah raga yang akan diselenggarakan, dan akan memperebutkan medali sebanyak 1.017 buah medali emas, perak, dan perunggu. pokoknya kurang lebih kayak Olympic Games se-Depok gitu deh 8O . buat lebih jelasnya tanya mbah gugel aja. atau klik ini nih.

nah, kebetulan disini gw ikutan cabang olah raga basket. untuk olah raga basket, peserta yang boleh ikut cuma siswa/siswi kelahiran tahun 1993 ke atas. umur gw berarti pas banget. itu berarti juga, taun ini adalah taun pertama dan terakhir gw bisa ikut basket PORKOT :( . di basket ini gw mewakili kecamatan/kontingen Sawangan.

ceritanya cukup panjang sampe gw bisa nyasar di klub basket Sawangan (FYI, harusnya gw masuk kontingen Pancoran Mas, soalnya rumah gw masih wilayah Kecamatan Pancoran Mas)…

Lanjutkan membaca ‘Sekedar Update’

Bolang Potter

perasaan belakangan ini kerjaan gw nontooon mulu. tekor deh duit gw. apalagi hari Sabtu, 18 Juli kemaren gw ga cuma nonton, tapi sekaligus nge-bolang. ;-)

yep, Sabtu kemaren, gw dan 2 temen gw (lagi) nonton Harry Potter and The Half-Blood Prince di Plaza Atrium Senen. padahal sebelumnya gw ga ada rencana sama sekali nonton di Atrium yang sejauh itu. niatnya kan gw pingin ngantri pagi2 biar kebagian nonton yang jam 12-an, jadinya gw cuma ngerencanain nonton di Cibubur Junction yang ga terlalu jauh. eh, tapi sekonyong-konyong rencananya berubah. gw juga ga tau kenapa, jiwa bolang kita (gw sama temen2) tiba2 tumbuh.. :mrgreen:

Lanjutkan membaca ‘Bolang Potter’

“Welcome To The Ice Age”

akhirnya kedapetan juga gw nonton film yang satu ini, Ice Age 3: Dawn Of The Dinosaurs. salah satu film yang wajib ditonton. juara deh ini film :mrgreen:

"we've been living above an entire world, and we didn't even know it!"

"we've been living above an entire world, and we didn't even know it!"

Lanjutkan membaca ‘“Welcome To The Ice Age”’

Halaman Berikutnya »


Tanggalan

Februari 2010
S S R K J S M
« Des    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

PLURK!

Quote This Week

"The world is a dangerous place, not because of those who do evil, but because of those who look on and do nothing."

Top Posts

Top Clicks

  • Tidak ada
No Smoking



JANGAN ASAL COPY-PASTE karena BLOG JUGA ADALAH HASIL KARYA CIPTA. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemilik karya atau paling tidak menyebutkan sumber asal. Hitung-hitung bersilaturahmi dan memperluas pergaulan, bukan?





Jumlah Nyangsanger

  • 913 juta manusia